Hari Kedua Pelatihan LPSDM UNPAM, Perkuat Wawasan Akademik, Kemahasiswaan, Penelitian, dan Penjaminan Mutu
Published on: 13 Agu 2026

Berita Kegiatan
Hari Kedua Pelatihan LPSDM UNPAM, Perkuat Wawasan Akademik,
Kemahasiswaan, Penelitian, dan Penjaminan Mutu
Tangerang Selatan, 12 Agustus 2026 — Lembaga Pengembangan
Sumber Daya Manusia (LPSDM) Universitas Pamulang (UNPAM) melanjutkan rangkaian
Pelatihan “Membangun Tunas Kepemimpinan Akademik yang Adaptif, Berintegritas,
dan Berdaya Saing untuk Keberlanjutan Program Studi” Tahun Akademik 2025–2026
pada Rabu (12/8/2026).
Memasuki hari kedua, kegiatan diarahkan pada penguatan
pemahaman peserta terhadap berbagai aspek strategis dalam penyelenggaraan
pendidikan tinggi, mulai dari paradigma pembelajaran dan kurikulum pendidikan
tinggi, penjaminan mutu dan akreditasi, kemahasiswaan, hingga penelitian dan
pengabdian kepada masyarakat (PkM).
Rangkaian kegiatan hari kedua diawali dengan registrasi
peserta pada pukul 08.30 WIB dan dilanjutkan dengan pembukaan oleh pembawa
acara. Setelah itu, peserta memasuki agenda utama berupa penyampaian materi
yang disiapkan untuk memperluas perspektif mengenai pengelolaan dan
pengembangan program studi.
Memahami Paradigma Pembelajaran dan Kurikulum Pendidikan
Tinggi
Materi pertama pada hari kedua adalah “Paradigma
Pembelajaran dan Kurikulum Pendidikan Tinggi” yang disampaikan oleh Dr. Ersan
Mahendrawan, M.Pd.
Materi ini memberikan pemahaman kepada peserta mengenai
pentingnya paradigma pembelajaran dan kurikulum dalam mendukung penyelenggaraan
pendidikan tinggi yang relevan dengan perkembangan zaman.
Perubahan lingkungan pendidikan tinggi menuntut perguruan
tinggi dan program studi untuk terus melakukan penyesuaian. Kurikulum tidak
hanya menjadi dokumen akademik, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam
memastikan proses pendidikan mampu menghasilkan lulusan sesuai dengan tujuan
dan profil yang telah ditetapkan.
Dalam sesi tersebut, peserta mendapatkan ruang untuk
berdiskusi dan menyampaikan pertanyaan mengenai tantangan implementasi
pembelajaran dan kurikulum di lingkungan perguruan tinggi.
Salah satu persoalan yang relevan untuk didiskusikan adalah
bagaimana program studi dapat memastikan bahwa kurikulum yang diterapkan tidak
hanya memenuhi standar yang ditetapkan, tetapi juga tetap relevan dengan
kebutuhan mahasiswa, perkembangan keilmuan, serta kebutuhan masyarakat dan
dunia kerja.
Diskusi tersebut memperkuat pemahaman bahwa pengembangan
kurikulum merupakan proses yang perlu dilakukan secara berkelanjutan. Program
studi perlu memiliki kemampuan untuk melakukan evaluasi dan penyesuaian agar
proses pembelajaran senantiasa relevan dengan perkembangan lingkungan
strategis.
Penjaminan Mutu dan Akreditasi sebagai Budaya Akademik
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan materi “Penjaminan
Mutu dan Akreditasi” yang disampaikan oleh Ihat Solihat, S.T., M.Si.
Materi ini menjadi salah satu bagian penting dalam penguatan
kepemimpinan akademik karena kualitas dan keberlanjutan program studi sangat
berkaitan dengan kemampuan institusi dalam menjalankan sistem penjaminan mutu
secara konsisten.
Peserta diajak memahami bahwa penjaminan mutu tidak
semestinya dipandang hanya sebagai kewajiban administratif atau persiapan
menghadapi proses akreditasi. Lebih dari itu, penjaminan mutu perlu menjadi
bagian dari budaya kerja akademik yang dilaksanakan secara berkelanjutan.
Dalam sesi diskusi, peserta dapat menghubungkan konsep
penjaminan mutu dengan kondisi nyata yang dihadapi oleh program studi.
Pertanyaan yang muncul antara lain berkaitan dengan bagaimana membangun sistem
penjaminan mutu yang tidak berhenti pada kelengkapan dokumen, tetapi
benar-benar menghasilkan perbaikan terhadap kualitas penyelenggaraan
pendidikan.
Pembahasan tersebut menegaskan pentingnya proses evaluasi,
pengendalian, dan peningkatan mutu secara berkelanjutan. Data, dokumen, dan
berbagai indikator mutu perlu menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan
dan pengembangan program studi.
Dengan demikian, akreditasi tidak hanya dipersiapkan ketika
program studi akan menghadapi proses asesmen, tetapi merupakan konsekuensi dari
budaya mutu yang telah dibangun secara konsisten.
Memperkuat Perspektif Kemahasiswaan
Setelah sesi penjaminan mutu dan akreditasi, peserta
melanjutkan rangkaian kegiatan dengan materi “Kemahasiswaan” yang disampaikan
oleh Andri Priadi, S.E., M.M.
Materi kemahasiswaan menjadi bagian penting dalam pelatihan
karena mahasiswa merupakan salah satu unsur utama dalam penyelenggaraan
pendidikan tinggi.
Keberhasilan program studi tidak hanya diukur dari aspek
akademik dan tata kelola, tetapi juga dari kemampuan perguruan tinggi dalam memberikan
ruang bagi mahasiswa untuk berkembang, baik dalam bidang akademik maupun
nonakademik.
Dalam konteks kepemimpinan akademik, pemahaman mengenai
kemahasiswaan menjadi penting karena pengelola program studi dan dosen perlu
memiliki perspektif yang utuh mengenai kebutuhan, potensi, serta pengembangan
mahasiswa.
Diskusi pada sesi ini juga dapat dikaitkan dengan bagaimana
program studi dan dosen dapat menciptakan lingkungan yang mendukung mahasiswa
untuk berkembang serta memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berpartisipasi
dalam berbagai kegiatan akademik dan kemahasiswaan.
Peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan
mengenai tantangan pengelolaan kemahasiswaan serta bagaimana sinergi antara
program studi, dosen, dan unit kemahasiswaan dapat terus diperkuat.
Hal tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem
pendidikan tinggi yang tidak hanya berorientasi pada proses pembelajaran,
tetapi juga pada pengembangan mahasiswa secara menyeluruh.
Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat sebagai Pilar
Perguruan Tinggi
Rangkaian materi selanjutnya adalah “Penelitian dan PkM”
yang disampaikan oleh Dr. Susanto, S.H., M.H.
Materi ini memperkuat pemahaman peserta mengenai peran
penelitian dan pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian penting dari
pelaksanaan tridharma perguruan tinggi.
Penelitian menjadi instrumen penting dalam pengembangan ilmu
pengetahuan sekaligus meningkatkan kontribusi akademik dosen. Sementara itu,
pengabdian kepada masyarakat menjadi ruang bagi perguruan tinggi untuk
menerapkan pengetahuan dan keahlian yang dimiliki dalam memberikan manfaat bagi
masyarakat.
Dalam perspektif pengembangan program studi, kegiatan
penelitian dan PkM juga dapat menjadi bagian dari penguatan reputasi akademik
serta pengembangan keunggulan program studi.
Peserta diberikan ruang untuk berdiskusi mengenai bagaimana
kegiatan penelitian dan PkM dapat dikembangkan agar tidak berjalan secara
terpisah dari kebutuhan program studi.
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah pentingnya
membangun keterkaitan antara bidang keilmuan dosen, kebutuhan program studi,
kegiatan penelitian, serta program pengabdian kepada masyarakat.
Dengan adanya keterhubungan tersebut, aktivitas tridharma
diharapkan dapat memberikan dampak yang lebih besar, baik bagi pengembangan
keilmuan, mahasiswa, program studi, maupun masyarakat.
Pengumuman Peserta Terbaik
Setelah seluruh rangkaian materi selesai, kegiatan
dilanjutkan dengan pengumuman peserta terbaik yang disampaikan oleh Dr. M.
Wildan, S.S., M.A.
Pengumuman tersebut menjadi salah satu bentuk apresiasi
terhadap peserta yang menunjukkan partisipasi dan keterlibatan selama mengikuti
rangkaian pelatihan.
Pemberian apresiasi juga menjadi bagian dari upaya membangun
semangat belajar dan partisipasi aktif dalam kegiatan pengembangan sumber daya
manusia.
Pelatihan tidak hanya diharapkan menghasilkan peningkatan
pengetahuan, tetapi juga mendorong peserta untuk aktif berdiskusi, menyampaikan
gagasan, serta menunjukkan komitmen selama mengikuti seluruh rangkaian
kegiatan.
Arahan Ketua Yayasan Sasmita Jaya
Rangkaian kegiatan kemudian memasuki agenda penting berupa
arahan Ketua Yayasan Sasmita Jaya yang disampaikan oleh Dr. Pranoto, S.E., M.M.
Arahan dari Yayasan menjadi momentum penting untuk
memperkuat perspektif peserta mengenai arah pengembangan sumber daya manusia
dan institusi.
Sebagai bagian dari ekosistem Universitas Pamulang,
pengembangan kualitas sumber daya manusia memiliki posisi strategis dalam
mendukung keberlanjutan institusi. Karena itu, penguatan kepemimpinan akademik
perlu berjalan sejalan dengan arah pengembangan Universitas Pamulang.
Arahan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa
keberhasilan perguruan tinggi membutuhkan sinergi antara yayasan, pimpinan
universitas, unit pengelola, program studi, dosen, tenaga kependidikan, dan
seluruh sivitas akademika.
Kolaborasi dan kesamaan arah menjadi fondasi penting untuk
memastikan berbagai kebijakan dan program pengembangan institusi dapat
dilaksanakan secara optimal.
Rektor UNPAM Tutup Rangkaian Pelatihan
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan sambutan dan penutupan
kegiatan oleh Rektor Universitas Pamulang, Dr. E. Nurzaman, AM., M.M., M.Si.
Penutupan oleh Rektor menjadi puncak dari seluruh rangkaian
kegiatan yang telah berlangsung selama dua hari.
Dalam keseluruhan rangkaian pelatihan, peserta telah mendapatkan
berbagai perspektif yang saling melengkapi. Hari pertama memberikan penguatan
mengenai Kesasmitaan, peran strategis dosen pendukung program studi, serta
karier dan etika profesi.
Sementara itu, hari kedua memperluas wawasan peserta
mengenai paradigma pembelajaran dan kurikulum pendidikan tinggi, penjaminan
mutu dan akreditasi, kemahasiswaan, serta penelitian dan pengabdian kepada
masyarakat.
Materi-materi tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan
akademik merupakan sebuah kompetensi yang membutuhkan pemahaman
multidimensional.
Seorang pemimpin akademik tidak cukup hanya memiliki
kemampuan dalam satu bidang, tetapi perlu memahami hubungan antara
pembelajaran, kurikulum, mutu, mahasiswa, penelitian, pengabdian kepada
masyarakat, sumber daya manusia, serta arah pengembangan institusi.
Membangun Tunas Kepemimpinan untuk Keberlanjutan Program
Studi
Pelaksanaan pelatihan selama dua hari menjadi bagian dari
upaya LPSDM UNPAM untuk membangun sumber daya manusia akademik yang memiliki
kesiapan dalam menghadapi dinamika pendidikan tinggi.
Tema “Membangun Tunas Kepemimpinan Akademik yang Adaptif,
Berintegritas, dan Berdaya Saing untuk Keberlanjutan Program Studi” menjadi
refleksi bahwa kepemimpinan akademik perlu dipersiapkan sejak dini.
Kepemimpinan tidak selalu harus dimulai dari jabatan formal.
Kepemimpinan dapat tumbuh dari kemampuan untuk mengambil inisiatif, membangun
kolaborasi, menyelesaikan persoalan, memberikan gagasan, serta menciptakan
perubahan positif di lingkungan akademik.
Kemampuan adaptif diperlukan agar insan akademik mampu
menghadapi perubahan. Integritas diperlukan agar setiap proses tetap berjalan
berdasarkan nilai dan etika. Sementara daya saing dibutuhkan agar setiap
individu dan program studi mampu terus berkembang dan memberikan kontribusi
terbaik.
Melalui pelatihan ini, LPSDM UNPAM berharap peserta dapat
membawa pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama kegiatan untuk
diterapkan dalam lingkungan kerja masing-masing.
Lebih jauh, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi
terhadap penguatan budaya akademik, peningkatan mutu, pengembangan program
studi, serta terciptanya sumber daya manusia yang mampu menjadi penggerak
kemajuan Universitas Pamulang.
Dengan berakhirnya rangkaian kegiatan hari kedua, Pelatihan
“Membangun Tunas Kepemimpinan Akademik yang Adaptif, Berintegritas, dan Berdaya
Saing untuk Keberlanjutan Program Studi” Tahun Akademik 2025–2026 resmi
ditutup.
LPSDM UNPAM terus meneguhkan komitmennya untuk membangun sumber daya manusia yang tidak hanya kompeten dalam menjalankan tugas, tetapi juga memiliki integritas, kemampuan beradaptasi, semangat kolaborasi, dan keberanian untuk mengambil peran strategis dalam pengembangan institusi. (Iq)




